SEKILAS INFO
: - Sunday, 25-08-2019
  • 7 bulan yang lalu / Link Streaming OSA dan UKA 2019 di https://smaialazhar7.sch.id/streaming
  • 7 bulan yang lalu / Saksikan Live Streaming Penyelenggaraan OSA dan UKA 2019
BERUBAH ATAU KALAH : MENYAMBUT REVOLUSI INDUSTRI 4.0

European Parliamentary Research Service dalam Davies (2015) menyampaikan bahwa revolusi industri terjadi empat kali. Revolusi industri pertama terjadi di Inggris pada tahun 1784 di mana penemuan mesin uap dan mekanisasi mulai menggantikan pekerjaan manusia. Revolusi yang kedua terjadi pada akhir abad ke-19 di mana mesin-mesin produksi yang ditenagai oleh listrik digunakan untuk kegiatan produksi secara masal. Penggunaan teknologi komputer untuk otomasi manufaktur mulai tahun 1970 menjadi tanda revolusi industri ketiga. Saat ini, perkembangan yang pesat dari teknologi sensor, interkoneksi, dan analisis data memunculkan gagasan untuk mengintegrasikan seluruh teknologi tersebut ke dalam berbagai bidang industri. Gagasan inilah yang diprediksi akan menjadi revolusi industri yang berikutnya. Angka empat pada istilah Industri 4.0 merujuk pada revolusi yang ke empat. Industri 4.0 merupakan fenomena yang unik jika dibandingkan dengan tiga revolusi industri yang mendahuluinya. Industri 4.0 diumumkan secara apriori karena peristiwa nyatanya belum terjadi dan masih dalam bentuk gagasan.

Fenomena yang terjadi di sekitar kita merupakan sebuah potret ketidaksiapan kita dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Konflik antara Ojek Pangkalan dengan Ojek yang berbasis aplikasi merupakan salah satu contoh raport merah sebuah peradaban yang tidak siap akan adanya perubahan. Memang sesuatu yang manusiawi bahwa perubahan dan atau perbedaan menjadi salah satu sumber terjadinya konflik dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itulah perlu adanya sebuah perubahan mindset dalam cara berpikir maupun bertindak sehingga meminimalisir terjadinya konflik.

Pada dasarnya peluang sangat terbuka lebar bagi siapa saja yang mau maju. Maju artinya bergerak, berpindah ke depan yang bermakna ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Senada dengan definisi belajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.” Di sisi lain Allah telah berfirman “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar Ra’d ; 13 : 11). Ilmu merupakan kunci dari sebuah kesuksesan. Hanya saja selayaknya ikan yang didapat dengan memancing, ilmu tak akan didapat dari suatu proses pembelajaran. Imam Syafi’i dalam  al-Majmu syarh al-Muhadzab juz 1 hal 20, memberikan beberapa kalimat akan pentingnya ilmu. “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”

Adapun kaitannya dengan Revolusi Industri 4.0 menuntut manusia untuk belajar ilmu teknologi. Adalah sebuah kekhawatiran apabila masyarakat masih belum melek teknologi. Kagermann memberikan sebuah gambaran bahwa Industri 4.0 adalah integrasi dari Cyber Physical System (CPS) dan Internet of Things and Services (IoT dan IoS) ke dalam proses industri meliputi manufaktur dan logistik serta proses lainnya. CPS adalah teknologi untuk menggabungkan antara dunia nyata dengan dunia maya. Penggabungan ini dapat terwujud melalui integrasi antara proses fisik dan komputasi (teknologi embedded computers dan jaringan) secara close loop.

Sangat disayangkan jika di sekolah-sekolah tempat anak-anak menuntut ilmu dibatasi oleh kebijakan yang kurang mendukung untuk proses eksplorisasi yang berkaitan dengan teknologi. Kekhawatiran akan penyalahgunaan teknologi bukan lantas kita melarang sepenuhnya untuk menggunakannya. Untuk itu ada baiknya lembaga pendidikan memberikan regulasi yang mendukung pemanfaatan teknologi dan juga adanya upaya preventif supaya tidak terjadi penyalahgunaan oleh para peserta didik.

Dalam beberapa dekade kedepan kemungkinan lapangan pekerjaan akan semakin sempit sebagai efek dari adanya Revolusi Industri 4.0 tersebut. Masyarakat harus siap dalam menghadapai kondisi dimana teknologi canggih akan menggantikan pekerjaan manusia dalam berbagai aspek mulai dari aspek fisik hingga pengambilan keputusan. Teknologi bukanlah musuh bagi manusia melainkan perangkat yang membantu memudahkan manusia dalam menyelesaikan pekerjaan. Dan bisa jadi para ahli teknologi akan menjadi penguasa sedangkan manusia yang gagap teknologi tidak bisa berbuat apa-apa.

Dengan demikian perubahan yang paling mendasar dan sangat mendesak dalam rangka menyongsong Revolusi Industri 4.0 adalah perubahan mindset. Pola pikir untuk menjadi yang lebih baik harus dinomor satukan. Jangan sampai kita bernasib seperti Nokia yang merasa nyaman dengan spesifikasi yang mereka bangakan dan tidak menyadari adanya perubahan yang mengancam. Bisa jadi kenyamanan yang kita rasakan saat ini adalah kenyamanan semu dan nantinya menjadi sebuah bom waktu yang akan menghancurkan kita tanpa kita sadari karena kita tidak berubah dan tidak ada persiapan dalam menghadapi perubahan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman

Penggunaan Twibbon SMAIA7 dalam MPLS 2019

Penerimaan Murid Baru SMAIA7 Tahun Pelajaran 2019/2020